jump to navigation

Duren Merah Langka dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi Mei 13, 2010

Posted by idayantie in wisata banyuwangi.
Tags: , , , , , ,
add a comment

duren merah langka

duren merah enak

Rasanya Lebih Legit, Seperti Rasa Duren Dengan Susu

Buah durian berwarna kuning memang sudah biasa. Tetapi ada durian merah atau yang disebut durian Siwayut di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Durian jenis ini juga ada di Kecamatan Songgon. Apa istimewanya?

ADA sebuah gang yang bernama Duren Abang di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Nama gang itu memang unik, karena asal nama gang itu berasal dari duren abang (durian merah). Di ujung gang itu terdapat rumah Serad, 70, si pemilik pohon durian langka yang biasa disebut durian siwayut itu.

Menurut Serad, asal kata siwayut tersebut berasal dari zaman nenek moyangnya. Dalam bahasa Using, siwayut artinya adalah warisan buyut atau warisan nenek moyang. Sedangkan warga sekitar menyebut, asal usul nama gang tersebut berasal dari sebuah pohon durian yang menghasilkan buah durian merah. Pohon itu hingga sekarang masih berada di pekarangan belakang rumah Serad.

Diameter pohon durian merah itu berukuran besar. Ukurannya hampir sama dengan pelukan tiga orang dewasa ini. Tinggi pohon itu sekitar 50 meter. Berdasarkan cerita warga sekitar, pohon ini merupakan wit babon (pohon induk) dari pohon-pohon durian merah yang ada di Banyuwangi.

Menurut Serad, usia pohon ini sudah mencapai sekitar 310 tahun. Kapan awal kehidupannya, Serad mengaku tidak tahu menahu. Yang jelas, pohon itu telah ada sejak dia lahir. Bahkan, sudah ada sejak masa neneknya masih kecil. “Pohon itu warisan turun temurun. Sehingga saya dan keturunan kami tidak boleh menebangnya,” ujarnya.

Serad mengatakan, pohon itu merupakan pohon induk dari pohon-pohon durian merah yang sekarang ini banyak terdapat di Banyuwangi. Perbedaannya terlihat pada warna dan rasa buahnya. Buah durian merah yang dihasilkan oleh pohon induk tersebut, warnanya merah tua, sementara dari pohon anakan, yaitu pohon hasil peranakan pohon induk tersebut, warna daging buahnya adalah merah muda. Rasanya pun berbeda.

Serad mengatakan, rasa durian siwayut dari pohon induk lebih legit dan lebih kental. Rasanya seperti durian bercampur susu. Sementara rasa durian siwayut dari pohon anakan tidak selegit yang asli. “Kandungan alkoholnya pun berbeda. Durian dari pohon induk, kadar alkoholnya lebih terasa,” tutur bapak dua anak tersebut.

Meski begitu, ternyata durian siwayut memiliki banyak manfaat. Hal ini berdasarkan pengakuan Serad sendiri serta beberapa warga yang memang pernah merasakan khasiat durian ini. “Khasiat utamanya bisa menambah vitalitas kaum lelaki,” ujar Maksum, salah seorang tetangga.

Serad mengatakan, karena masih terbatas keberadaannya, durian yang satu ini selalu menjadi rebutan. Tidak hanya masyarakat Banyuwangi, masyarakat dari luar kota pun sering berkunjung ke rumahnya dengan tujuan untuk memesan durian tersebut. Bahkan, ada pelanggan tetapnya yang berasal dari Kalimantan, yang secara rutin menyambangi rumahnya setiap tahun untuk merasakan durian siwayut tersebut.

Gara-gara duren siwayut miliknya, Serad juga sampai mendapat kunjungan oleh Imam Utomo, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur. Tidak hanya itu, pengalaman menarik juga muncul karena durian tersebut. Karena penasaran dengan rasa dan penampilan durian siwayut ini, istri Purnomo Sidiq, mantan Bupati Banyuwangi, sampai menunggui dengan sabar proses jatuhnya durian tersebut dari pohonnya. Namun, meski sudah ditunggu, buah durian tersebut tidak jatuh-jatuh. Sehingga membuat istri Purnomo tertidur di gazebo yang memang disediakan Serad di dekat pohon duriannya. “Padahal menunggunya dari pagi hingga sore, namun tidak ada satu pun buah yang jatuh,” ujar suami Saudah ini.

Serad mengatakan, sekali berbuah, pohon induk siwayut bisa menghasilkan sekitar 300 buah. Hanya, waktu berbuahnya tidak menentu. Tidak seperti pohon durian yang lain, pohon durian ini justru memiliki jadwal yang tidak tetap. Tapi bisa dipastikan, pohon ini hanya bisa berbuah satu kali dalam setahun. Uniknya, buah durian siwayut ini berukuran sedang, dan cenderung seragam. “Buahnya tidak pernah lebih besar dari ukuran normalnya,” tuturnya.

Perbedaan durian yang satu ini dengan durian lain, adalah dari baunya. Karena baunya sangat kuat, sehingga bisa bertahan hingga beberapa hari meski duriannya sudah dipindahkan.

Meski dibilang langka, Serad mengaku tidak pernah mematok harga khusus untuk duren miliknya ini. Memang, selama ini duren serupa dijual seharga Rp 50 ribu. Namun, dia tidak mengaku tergiur dengan harga mahal tersebut. Saat ada orang yang membeli duriannya, dia rela dibayar sesuai dengan kemampuan si pembeli. Makanya, dia juga pernah hanya dibayar Rp 10 ribu untuk satu buah durian langka tersebut. Alasannya sangat sederhana, karena dengan harga murah, siapa pun bisa menikmati durian tersebut, dan tidak hanya kaum berduit. “Mosok bongso lan warga isun dewek heng biso mangan duren asli daerah kene? (Masak bangsa dan warga Kemiren sendiri malah tidak bisa menikmati durian asli daerah mereka sendiri?),” ujarnya.

Karena waktu berbuahnya yang tidak menentu, banyak orang yang ingin memesan terlebih dahulu dengan memberi uang muka, bahkan sebelum pohon tersebut berbuah. Namun Serad tidak pernah menyetujuinya. Karena berdasarkan pengalamannya, saat ada orang yang sudah memesan dan membayar uang muka terlebih dahulu, maka buahnya justru tidak mau jatuh dari pohon. Hal itu sudah terbukti beberapa kali. Sehingga, apabila ada orang yang memesan, dia akan menolaknya, dan menganjurkan orang tersebut datang ke rumahnya saat duren siwayut miliknya sudah mulai panen. “Kalau berjodoh, pasti akan bisa menikmati duren merah tersebut,” tandasnya.(bay)
sumber : Radar Banyuwangi, 13 Mei 2010

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.