jump to navigation

Mengintip Tradisi Nyukit Lemah Warga Using Kemiren Maret 19, 2010

Posted by idayantie in wisata banyuwangi.
Tags: , , ,
trackback

Selamatan Dimulai Setelah Salat Subuh

Masyarakat Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, memiliki banyak tradisi. Salah satunya adalah tradisi nyukit lemah. Tradisi turun-temurun itu dilakukan saat seorang bayi telah dilahirkan.

RISKI NALANDARI, Banyuwangi

Suasana di Desa Kemiren pagi itu masih sepi dan gelap. Matahari belum menampakkan cahaya merahnya meski waktu telah menunjukkan pukul 04.30. Meski begitu, di sebuah rumah banyak kesibukan yang sudah dimulai.

Rupanya di rumah Lusiana itu akan diadakan tradisi nyukit lemah (mencongkel tanah) untuk merayakan kelahiran bayinya. Beberapa wanita terlihat sudah berkutat di dapur sejak dini hari. Dua orang pria sibuk menggelar tikar di lantai. Mereka sibuk menyiapkan perlengkapan untuk nyukit lemah. Sebuah upacara adat yang dilaksanakan setelah kelahiran bayi dalam sebuah keluarga.

Nyukit lemah merupakan tradisi masyarakat Using, untuk merayakan kelahiran seorang bayi sebagai bagian dari keluarga. Upacara itu dilaksanakan setelah tali pusar si bayi lepas. Tidak hanya itu, pelaksanaan nyukit lemah juga tergantung kondisi ibu si bayi. Apakah sudah sehat ataukah belum? Biasanya, waktu yang dipilih adalah saat bayi berumur 10 hingga 15 hari.

Adi Purwadi, warga Kemiren menuturkan, upacara itu merupakan tradisi untuk menyatakan bahwa seorang ibu dan bayi telah siap menjalani kehidupan baru di dunia sebagai sebuah keluarga.

Pelaksanaannya adalah setelah subuh saat matahari belum terbit. Hal itu melambangkan bahwa saat matahari terbit, maka si ibu dan bayi telah siap menjalani hidup baru di hari yang baru. Sementara itu, segala hal yang bersifat buruk (nasib buruk) dan gangguan di hidup mereka telah sirna seiring munculnya matahari. “Hal ini juga bermaksud agar si bayi terbiasa bangun pagi,” tutur Adi kemarin.

Tradisi nyukit lemah mensyaratkan beberapa hal sebagai kelengkapan. Pelaksanaannya pun terbagi dalam beberapa tahap. Tahap awal adalah selametan suwung. Pada prosesi itu, beberapa tetangga hadir untuk menyaksikan. Kelengkapannya adalah gampung, yakni alat untuk memanen padi yang terbuat dari bambu dan pisau. Selain itu, wanci, yakni tempat perlengkapan nginang. Ada juga sewur atau gayung yang terbuat dari batok kelapa. Kukusan, yang biasa dipakai wadah menanak nasi yang terbuat dari anyaman bamboo, dan lawe atau benang panjang. Semua benda itu ditempatkan di sebuah nyiru, lalu diletakkan di tengah-tengah para tamu.

Prosesi selametan suwung dipimpin seorang tetua desa. Diawali dengan membaca doa. Setelah itu, perlengkapan yang ditempatkan di nyiru dibuka satu per satu. Perlengkapan itu diperiksa apakah dalam kondisi kosong ataukah berisi. Setiap tetangga yang menjadi saksi akan diminta untuk melihat perlengkapan tersebut.

Adi menjelaskan, setiap benda tersebut memiliki makna masing-masing. Misalnya lawe, yang berarti upacara itu tidak sunah dan tidak wajib. Hanya merupakan adat dan tradisi. Kemudian, sewur memiliki makna biar ojo ngawur. Maksudnya, agar si bayi tidak berbuat ngawur dalam hidupnya. Kukusan menggambarkan kehidupan umum. Nyiru yang berbentuk lingkaran, memiliki maksud agar kehidupan si bayi selalu lancar dan tidak ada halangan. Kemudian wanci merupakan tempat jebakan bagi hal-hal yang tidak baik yang mengikuti kelahiran si bayi.

Setelah diyakinkan bahwa semua benda tersebut dalam keadaan kosong, nyiru pun ditukar dengan tiga nyiru lain. Masing-masing nyiru berisi nasi tumpeng, jajan pasar, dan jenang abang.

Acara dilanjutkan dengan nyukit lemah. Seorang wanita yang menjadi dukun bayi memimpin prosesi itu. Sambil mendoakan si bayi dan ibunya, dukun bayi itu mencukit sedikit tanah di sekitar rumah. Si dukun juga menyiapkan sesaji di tempat tidur bayi untuk mengusir setan dan balak. Sesaji itu berupa air bunga, seekor ayam, nasi tumpeng kecil lengkap lauk-pauk, dan perlengkapan nginang.

Tidak hanya ditaruh di tempat tidur bayi, tapi juga diletakkan di kolong ranjang. “Setelah itu, biasanya si ibu akan meminta maaf kepada orang tuanya atas kesalahan yang mungkin dilakukannya saat mengandung,” terang Adi seraya menambahkan bahwa tradisi itu juga bertujuan menolak musibah bagi si bayi dan keluarganya. (irw)

sumber : radar banyuwangi

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: