jump to navigation

Persiapan Mental Siswa SMA menyongsong Ujian Nasional Maret 21, 2010

Posted by idayantie in Pendidikan.
Tags: , ,
trackback

Jam Pelajaran Ditambah, Siswa Gelar Doa Bersama

Menjelang pelaksanaan ujian nasional (Unas), kesibukan siswa meningkat drastis. Utamanya para siswa kelas III yang akan mengikuti tes penentuan lulus-tidaknya dari sekolah. Tak cukup hanya menambah jam pelajaran. Para siswa juga mulai istiqomah menyampaikan “permohonan” ingin lulus Unas.

MALAM itu, ratusan siswa duduk bersimpuh di halaman di Kota Situbondo. Dibelah kain panjang, mereka saling menjaga kekhusukan. Pelajar putri yang berseragam mukena putih berbaris di sisi utara. Sementara itu, para siswa laki-laki berkumpul di bagian selatan. Bacaan-bacaan doa para siswa itu terus membahana ke sekeliling sekolah. Sesekali suara isak tangis terdengar di tengah-tengah dzikir yang mengalir itu.

Bukan hanya siswa. Sejumlah guru dan perwakilan komite sekolah juga ikut dalam kegiatan tersebut. Mereka berbaur dalam kekhusukan bersama para siswa demi satu permohonan, yakni lulus. Demikianlah salah satu potret persiapan para siswa di Situbondo dalam menghadapi Unas mendatang. Tak hanya mengandalkan tambahan jam pelajaran, sekolah juga memfasilitasi para siswa berdoa bersama.

Doa bersama atau yang lebih dikenal dengan istilah istighotsah itu bukan hanya dilakukan di sekolah pinggiran. Sejumlah sekolah favorit di tengah-tengah Kota Santri juga melaksanakan doa bersama untuk menyambut Unas. Salah satunya, SMAN 1 Situbondo. Hampir tiap malam, sekolah yang beralamat di pinggir Jalan P.B. Soedirman itu mengajak siswanya bermunajat. “Mulai dari kasek, guru, sampai komite sekolah, semua ikut dalam kegiatan ini. Kami bersama-sama memohonkan kelulusan para siswa,” kata guru agama SMAN setempat, Habib Muhammad Abu Bakar, kepada RaBa Jumat malam (19/3).

Pantauan koran ini menyebutkan, beberapa pelajar tampak terharu selama mengikuti doa bersama. Lewat bacaan-bacaan dzikir, tidak sedikit siswa dan guru yang berlinang air mata. Sembari sesenggukan, mereka terus menengadahkan kedua tangannya ke atas. Mereka meminta kemudahan dalam mengikuti Unas dan diberi kelulusan. “Kami juga meminta kepada wali murid agar mendorong putra-putrinya lebih rajin belajar dan berdoa,” tutur Wakasek Kesiswaan Mohamad Anwar.

Sementara itu, permohonan lebih ekstrim dilakukan siswa Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda, Desa Paowan, Kecamatan Panarukan. Sebab, doa bersama tidak dilakukan di ruangan kelas, halaman, maupun masjid, melainkan dipusatkan di pemakaman pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda. Kebanyakan siswa MTs Nurul Huda adalah para santri di ponpes tersebut.

Istighotsah di makam sesepuh Ponpes Nurul Huda itu rutin dilaksanakan menjelang Unas. Tak cukup itu, doa bersama juga akan terus dilakukan hingga pengumuman kelulusan hasil Unas mendatang. Oleh karena itu, selain berdoa bersama, pihak sekolah juga memberlakukan tambahan jam pelajaran sejak beberapa waktu lalu. “Kami bukan minta kepada orang yang sudah meninggal. Kami mendoakan para sesepuh hanya mengharapkan barokah agar mereka ikut mendoakan siswa-siswi kami,” kata pembina yayasan setempat, Baihaqi Rahmat, Jumat malam lalu.

Sementara itu di Banyuwangi, seluruh siswa SMAN 1 Glagah mengikuti istighotsah bersama kemarin (20/3). Istighotsah yang diikuti oleh semua siswa kelas XII dan sebagian siswa kelas XI ini dimulai sejak pukul 7.30. Acara yang berlangsung selama satu jam tersebut juga diikuti oleh beberapa guru yang sedang tidak mengajar.

Try Andreas, seorang siswa kelas XI mengaku ikut acara istighotsah untuk ikut mendoakan siswa kelas XII yang akan mengikuti Unas Senin besok. Sebenarnya, dia ada jam pelajaran di kelas pagi itu.”Saya hanya berharap agar mereka lulus semua. Nantinya saya juga akan seperti mereka,” ujarnya.

Citra Noviandari, siswa kelas XII mengatakan, dirinya memiliki sedikit kecemasan dalam menghadapi Unas. Tapi dia optimistis akan lulus, karena selama ini dia sudah berusaha semaksimal mungkin dengan mengikuti program bimbingan. “Ya berdoa saja supaya semua lancar,” tuturnya.

Kepala SMAN 1 Glagah, Imam Suudi mengatakan, istighotsah itu digelar sebagai sebuah tawakal kepada Allah agar lancar saat ujian. Selama ini siswa sudah konsisten mengikuti program bimbingan persiapan Unas. Meski begitu, dia tidak memungkiri adanya perasaan khawatir. “Itu hal yang wajar. Setiap orang tua pasti merasakan hal yang sama,” ujarnya.(A. Ghazali Dasuqi-Riski Nalandari/irw/bay)
sumber : radar banyuwangi

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: