jump to navigation

Sekolah Dilarang Beri Amplop ke Pengawas Unas Maret 26, 2010

Posted by idayantie in Pendidikan.
Tags: , ,
trackback

Hari Ini Terakhir Unas SMA

SURABAYA – Kebiasaan beberapa sekolah memberi uang saku kepada pengawas ujian nasional (unas) harus dihentikan mulai tahun ini. Praktik seperti itu secara tidak langsung bisa memengaruhi independensi pengawas dalam bertugas.

Panitia unas juga telah mengeluarkan seruan ke sekolah-sekolah untuk tidak nyangoni pengawas. ”Negara sudah memberi alokasi yang cukup untuk mereka (pengawas),” kata Ketua Panitia Pelaksana Unas Jatim Prof Dr Syafsir Akhlus di Unit Pelaksana Teknis Pusat Komputer (UPT Puskom) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kemarin (25/3).

Menurut dia, honor pengawas sudah ditingkatkan, dari semula Rp 50 ribu kini menjadi Rp 100 ribu per hari. Selama bertugas lima hari di sekolah, mereka mendapatkan honor Rp 500 ribu. Jatim mendapat alokasi sekitar Rp 13 miliar untuk aktivitas pengawasan unas oleh perguruan tinggi.

Tahun-tahun sebelumnya, pada akhir penyelenggaraan unas, sekolah sering memberikan uang saku kepada para pengawas. Bentuknya macam-macam. Ada yang menyebut uang terima kasih atau uang transpor.

Pemberian uang itu bisa memengaruhi kualitas laporan pemantauan yang dibikin pengawas perguruan tinggi. Laporan yang tidak sesuai kondisi nyata berpengaruh terhadap penyelenggaraan unas tahun depan. Karena itu, Syafsir meminta laporan pengawas benar-benar jujur dan menggambarkan kondisi faktual di masing-masing sekolah selama ujian.

Guru besar kimia ITS itu juga meminta sekolah melapor kepada koordinator pengawas di tiap-tiap daerah jika ada pengawas yang terang-terangan meminta uang transpor.

Beberapa sekolah memang menyediakan dana untuk pengawas dari perguruan tinggi. SMA Kemala Bhayangkari, misalnya, menganggarkan Rp 50 ribu untuk pengawas dari PT setiap hari. Uang itu akan diberikan pada akhir ujian. Kalau ditotal, jumlahnya Rp 250 ribu. ”Itu sebagai uang transpor,” jelas Kepala SMA Kemala Bhayangkari Sabariyanto tanpa tedeng aling-aling.

Hal yang sama dilakukan SMA Al-Falah Ketintang. Menurut Koordinator Program Pemantaan Materi (PPM) Unas Listyo Pambudi Utomo, sekolahnya juga menganggarkan uang saku bagi pengawas Rp 300 ribu per orang. Dia menuturkan, kebanyakan sekolah memang menganggarkan dana untuk pengawas. Itu juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

SMA Kristen Kalam Kudus di Jalan Kupang Jaya melakukan hal yang sama. Sekolah tersebut memberi uang transpor Rp 15.000 per hari kepada setiap pengawas. Dengan jumlah guru pengawas 18 orang, sekolah merogoh kocek Rp 270.000 setiap hari. ”Uang transpor itu berasal dari anggaran sekolah kami,” ungkap Bambang Witono, kepala SMA Kalam Kudus.

Begitu pula SMA Shafta. Sekolah di Jalan Lontar tersebut juga memberikan uang transportasi kepada para pengawas. Syaifudin Rosyid, wakil kepala SMA Shafta, menuturkan, dalam sekelas yang diisi 20 siswa tersebut, terdapat dua pengawas. Total pengawas di sekolah itu 12 orang. ”Ada dua cadangan pengawas,” ujarnya.

Dia melanjutkan, uang transpor untuk para pengawas akan dibagikan saat akhir unas. ”Tapi, jumlahnya belum ditentukan,” tuturnya. Syaifudin menuturkan, besarnya uang transpor tersebut berdasar dana yang dimiliki masing-masing sekolah.

Selain persoalan uang saku pengawas, Syafsir menyinggung evaluasi pelaksanaan unas selama empat hari terakhir. Laporan yang terbanyak masuk ke panitia adalah adanya peserta unas yang membawa handphone ke ruang ujian. ”Dalam sehari bisa dua sampai tiga laporan,” ujarnya. Di Surabaya, kasus handphone masuk ruang ujian terjadi di SMK Pawiyatan.

Menurut evaluasi di banyak daerah, kata Syafsir, pengawas juga terlalu longgar mengawasi masuknya alat komunikasi ke ruang ujian. ”Pengawas bisa diduga dianggap lalai juga,” katanya.

Dari beberapa laporan, masih ada pula pengawas ruangan yang mengoperasikan handphone saat unas berlangsung. Untuk pengawas perguruan tinggi, pihaknya menyatakan telah mengganti beberapa personel yang dinilai kurang disiplin menjalankan tugas.

Evaluasi kemarin juga membeber sejumlah kesalahan teknis dalam pelaksanaan unas, yakni tertukarnya soal ujian. Hal itu terjadi hampir di seluruh daerah di Jatim. Di Surabaya, kesalahan pembagian soal terungkap dari pengaduan SMA Lil Wathon, Subrayon 08, ke Dispendik Surabaya pada unas hari ketiga (24/3).

Terungkap bahwa pembagian soal peserta dari sekolah tersebut berdasar denah bangku. Padahal, menurut aturan standar operasional prosedur (SOP) unas, pembagian soal mengacu pada genap/ganjil nomor peserta. Nomor peserta ganjil mendapat soal tipe A. Sebaliknya, nomor genap mendapat soal tipe B.

Setelah pengawas menyelidiki, tampaknya, kesalahan yang sama masih terjadi kemarin. Justru meluas. Setidaknya, SMAN 8 yang menjadi sekolah penyelenggara melakukan kesalahan yang sama. ”Besok (hari ini) kami pastikan tidak ada kesalahan lagi,” tegas Kepala SMAN 8 Sadili.

Dia menyatakan telah mengoordinasikan kesalahan teknis itu kepada tim ITS. ”Jadi, siswa tak perlu khawatir. Prinsipnya, lembar jawab ujian nasional (LJUN) tetap bisa dipindai, asal mereka tidak salah memasukkan nomor kode soal,” tuturnya. (git/lum/upi/kha/c5/tom)
sumber : http://www.jawapos.co.id

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: