jump to navigation

Unas SMA Berikan Banyak Pengalaman, Perketat Pengawasan Unas SMP Maret 29, 2010

Posted by idayantie in Pendidikan.
Tags: , ,
trackback

AKARTA – Peserta ujian nasional (unas) tingkat SMP/MTs dijanjikan dijaga ketat tim pemantau independen (TPI). Meski tak ada pengawas, TPI berhak berperan sebagai pengawas bila dianggap perlu.

Unas SMP/MTs dan SMP luar biasa (SMPLB) yang berlangsung mulai hari ini (29/3) hingga Kamis (1/4) tentu tak akan luput dari pengawasan TPI. Koordinator Nasional Pengawas dan TPI Haris Supratno mengatakan, pelaksanaan unas SMA memberikan banyak pengalaman terhadap Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan TPI. “Hampir semua modus dan pola kecurangan memang kami petakan sebagai pengalaman untuk memantau unas tingkat SMP,” papar Haris kemarin (28/3).

Dia menjelaskan, beberapa modus telah dipelajari secara turun-temurun. Salah satunya, peserta unas beralasan ke toilet. “Dalam standar operasional kan juga dijelaskan, mereka harus didampingi saat ke belakang (toilet, Red),” ucapnya.

Modus lain, peserta sengaja membawa masuk HP selama ujian. Menurut Haris, modus tersebut tentu melibatkan kerja sama antara panitia dan pemantau unas. “Apalagi, untuk SMP tidak ada pengawasan, hanya pemantauan,” papar dia.

Meski demikian, jelas Haris, pengawas dan TPI tidak akan diam saja. Kali ini, papar dia, pemantau dari perguruan tinggi (PT) juga boleh bekerja sebagai pengawas. “Tidak memiliki hak penuh, bila diperlukan saja,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pemantau berperan penting untuk memperlancar unas pada satuan pendidikan. Dia menuturkan, banyaknya kecurangan unas ditemukan oleh TPI bukan saat ujian dilaksanakan, melainkan sebelum naskah soal dibagikan kepada peserta. “Mulai isu jawaban, percetakan rusak, hingga kesalahan memasukkan amplop. Semua berada di luar tanggung jawab kami,” tegasnya.

Haris menambahkan, yang dicari PT justru kesalahan siswa saat mengerjakan ujian di kelas. “Melihat gerak-gerik siswa yang mencurigakan dan memantau panitia penyelenggara,” kata dia.

Tahun ini, terang dia, kinerja pemantau memang sedikit rumit. Tidak ingin disebut sebagai pengawas, pemantau bekerja mengawasi siswa, guru, dan kondisi sekolah. “Jika ada indikasi kecurangan, TPI langsung berkoordinasi,” ungkapnya.

Haris juga membuka peluang soal ujian pengganti. Ujian itu, imbuh dia, bukan sebuah percobaan bagi siswa. Dia berharap, pada ujian reguler seluruh siswa dapat mengerjakan soal sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Tanpa upaya apa pun, selain pemikiran mereka,” ucapnya.

Menurut dia, mengikuti ujian pengganti justru menghabiskan waktu dan tenaga, baik siswa maupun panitia pelaksanaan unas. “Tidak perlu coba-coba lah,” tegasnya. Haris menegaskan, tidak tertutup kemungkinan ujian itu tetap dijadwalkan jika siswa tak percaya dengan kemampuan sendiri. “Akhirnya, nyontek dengan berbagai macam cara,” beber dia. (nuq/zul/c11/agm)
AKARTA – Peserta ujian nasional (unas) tingkat SMP/MTs dijanjikan dijaga ketat tim pemantau independen (TPI). Meski tak ada pengawas, TPI berhak berperan sebagai pengawas bila dianggap perlu.

Unas SMP/MTs dan SMP luar biasa (SMPLB) yang berlangsung mulai hari ini (29/3) hingga Kamis (1/4) tentu tak akan luput dari pengawasan TPI. Koordinator Nasional Pengawas dan TPI Haris Supratno mengatakan, pelaksanaan unas SMA memberikan banyak pengalaman terhadap Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan TPI. “Hampir semua modus dan pola kecurangan memang kami petakan sebagai pengalaman untuk memantau unas tingkat SMP,” papar Haris kemarin (28/3).

Dia menjelaskan, beberapa modus telah dipelajari secara turun-temurun. Salah satunya, peserta unas beralasan ke toilet. “Dalam standar operasional kan juga dijelaskan, mereka harus didampingi saat ke belakang (toilet, Red),” ucapnya.

Modus lain, peserta sengaja membawa masuk HP selama ujian. Menurut Haris, modus tersebut tentu melibatkan kerja sama antara panitia dan pemantau unas. “Apalagi, untuk SMP tidak ada pengawasan, hanya pemantauan,” papar dia.

Meski demikian, jelas Haris, pengawas dan TPI tidak akan diam saja. Kali ini, papar dia, pemantau dari perguruan tinggi (PT) juga boleh bekerja sebagai pengawas. “Tidak memiliki hak penuh, bila diperlukan saja,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pemantau berperan penting untuk memperlancar unas pada satuan pendidikan. Dia menuturkan, banyaknya kecurangan unas ditemukan oleh TPI bukan saat ujian dilaksanakan, melainkan sebelum naskah soal dibagikan kepada peserta. “Mulai isu jawaban, percetakan rusak, hingga kesalahan memasukkan amplop. Semua berada di luar tanggung jawab kami,” tegasnya.

Haris menambahkan, yang dicari PT justru kesalahan siswa saat mengerjakan ujian di kelas. “Melihat gerak-gerik siswa yang mencurigakan dan memantau panitia penyelenggara,” kata dia.

Tahun ini, terang dia, kinerja pemantau memang sedikit rumit. Tidak ingin disebut sebagai pengawas, pemantau bekerja mengawasi siswa, guru, dan kondisi sekolah. “Jika ada indikasi kecurangan, TPI langsung berkoordinasi,” ungkapnya.

Haris juga membuka peluang soal ujian pengganti. Ujian itu, imbuh dia, bukan sebuah percobaan bagi siswa. Dia berharap, pada ujian reguler seluruh siswa dapat mengerjakan soal sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Tanpa upaya apa pun, selain pemikiran mereka,” ucapnya.

Menurut dia, mengikuti ujian pengganti justru menghabiskan waktu dan tenaga, baik siswa maupun panitia pelaksanaan unas. “Tidak perlu coba-coba lah,” tegasnya. Haris menegaskan, tidak tertutup kemungkinan ujian itu tetap dijadwalkan jika siswa tak percaya dengan kemampuan sendiri. “Akhirnya, nyontek dengan berbagai macam cara,” beber dia. (nuq/zul/c11/agm)
sumber : http://www.jawapos.co.id

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: