jump to navigation

Para Pendidik yang Menorehkan Prestasi di Hari Pendidikan Nasion Mei 4, 2010

Posted by idayantie in Pendidikan.
Tags: , , ,
trackback

Akademis Kalah, Pacu Prestasi Nonakademis

Meski perempuan, bukan berarti tak bisa meraih prestasi yang membanggakan. Ini pula yang ditunjukkan dua kepala sekolah di lingkup Dispendik Jember yang saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi. Siapa saja mereka?

Nur Fitriana, Jember

BUKAN hal mustahil untuk mewujudkan sekolah yang bagus, meski dananya cukup minim. Hal itulah yang menjadi pegangan kuat Kepala SDN Slawu III, Kecamatan Patrang Dra Nurma Ariyani MPd.

Ibu empat anak ini memulai karirnya sebagai guru sejak 1981. Sama seperti rekan kerjanya yang lain, dia mengawali karirnya sebagai seorang guru SD biasa. Barulah pada 2003, dia diangkat menjadi kepala sekolah di SDN Slawu III, Kecamatan Patrang.

Menjadi kepala sekolah di daerah yang terletak di pinggiran kota Jember, menjadi tantangan tersendiri bagi Nurma. Meski tak begitu jauh jaraknya dari daerah perkotaan, di tempat dia mengajar, masyarakatnya masih cenderung minim pendidikan. Terbukti dari kondisi orang tua wali murid dengan pendidikan yang mayoritas masih cukup rendah.

Melihat kondisi demikian, Nurma tak patah arang. Digalinya segala potensi, hingga dia menemukan celah untuk memajukan anak didiknya. Dari sisi akademis, Nurma mengaku, anak didiknya masih terlampau jauh jika dibandingkan perkotaan. Namun, dari sisi non akademis, dia yakin anak didiknya punya kemampuan luar biasa.

Sebab itulah, tercetus ide untuk menggunakan hari Sabtu untuk full day ekstra kurikuler. Jadi, kegiatan belajar mengajar (KBM) hanya dilakukan pada Senin hingga Jumat. Khusus untuk hari Sabtu, anak didiknya bebas memilih ekstrakurikuler apa yang menjadi pilihan mereka. Mulai dari drum band, tari, hingga pencak silat.

Khusus untuk pencak silat, Nurma menjadikan ekstrakurikuler itu wajib diikuti oleh seluruh siswa. Sebab, menurut dia, selama ini belum banyak sekolah yang secara khusus melibatkan siswanya untuk berprestasi dalam pencak silat. Nurma pun mendatangkan guru pencak silat yang mumpuni untuk mengajarkan ilmu bela diri kepada anak didiknya. Alhasil, beragam kejuaraan pun berhasil diraih sekolahnya.

Pembuatan hari khusus untuk ekstrakurikuler dimaksudkan Nurma untuk memberikan penyaluran bakat yang dimiliki anak didiknya. Sehingga, mereka bisa mengembangkan kecerdasan non akademisnya dengan gemilang. Cara itu dirasa cukup ampuh bagi Nurma untuk meningkatkan prestasi anak didik dan sekolah yang dipimpinnya.

Perempuan kelahiran 1962 ini juga tak pernah melibatkan wali murid terlalu jauh dalam menghadapi kesulitan dana yang dialami oleh sekolah. Sebab dengan kondisi yang kurang, wali murid tak mungkin lagi dibebani dengan biaya lainnya, meskipun hal itu juga untuk kebaikan sekolah. Sehingga, Nurma pun menjalankan inisiatifnya dalam memperoleh kerja sama dengan lembaga dalam mendapatkan biaya tambahan untuk fasilitas sekolah.

Untuk itu, dirinya pun menggaet beberapa penerbit untuk membantunya dalam pembiayaan sekolah. Nurma pun berhasil. Dengan dijalinnya kerja sama tersebut, dia berhasil mendapatkan biaya untuk penambahan fasilitas sekolah dalam bentuk taman discovery and recovery. Taman itu berfungsi sebagai tempat belajar siswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan alamnya. “Di Jember ini kan termasuk nominasi sekolah dengan kawasan Adhiwiyata,” jelasnya.

Nurma yakin dapat menjadikan sekolahnya jauh lebih baik ke depannya. Dia selalu optimistis, keberhasilan tak harus didapat di sekolah dengan sandangan bertaraf internasional atau unggulan dulu. Sekolah-sekolah semacam itu, kata dia, juga awalnya pasti berjuang.

Dengan pegangan itulah, Nurma melangkah dengan penuh percaya diri hingga mendapatkan penghargaan sebagai kepala sekolah yang berprestasi. “Bolehlah sekolahnya di pinggiran, tapi lulusannya masih bisa diperhitungkan baik dari non akademis dan akademisnya,” tegasnya.

Senada dengan Nurma, kepala TK Dharmawanita II, Kecamatan Patrang, Endang Purwasih SPd mengatakan, dirinya tak pernah berkecil hati, meskipun sekolahnya berada di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang.

Dengan menerima penghargaan sebagai kepala TK berprestasi, diharapkan minat serta antusiasme masyarakat di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, terhadap pendidikan taman kanak-kanak menjadi bertambah. Endang mengaku, dirinya harus berusaha keras demi memperkenalkan pentingnya pendidikan taman kanak-kanak pada hampir seluruh masyarakat di tempat TK-nya berada.

Endang bahkan harus menarik antusiasme mereka dengan menggunakan pementasan seni yang dilakukan anak didiknya untuk menarik para orang tua untuk menitipkan anak-anaknya demi memperoleh pendidikan usia dini.

Ibu dua anak ini menilai, pendidikan yang diberikan pada usia TK adalah pendidikan anak-anak usia emas. Apalagi, dewasa ini anak-anak dengan usia yang dini sudah dimasuki oleh budaya yang merusak mental mereka. “Pengaruh televisi dan lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan mental anak-anak di usia emas itu (4 hingga 6 tahun, Red),” ujarnya.

Di taman kanak-kanak, mereka akan diajarkan berbagai macam pembelajaran dalam bentuk permainan yang mengandung 5 unsur penting. Yakni, pembiasaan yang terdiri dari tingkah laku, akhlak atau yang berhubungan dengan keagamaan. Selain itu, mereka juga diajarkan tata bahasa yang baik dan santun. Termasuk pengetahuan kognitif atau akademisnya, seperti membaca dan berhitung.

Tak hanya itu, dalam taman kanak-kanak, menurut dia, anak-anak juga diberikan pendidikan olah raga untuk melatih fisik dan motorik mereka. Serta diberikan pengetahuan tentang seni agar mereka dapat mengembangkan kemampuan atau bakat yang dimiliki. “Dengan berhasilnya pendidikan di TK, akan berhasil pula pendidikan selanjutnya yang akan mereka tempuh,” tuturnya.

Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) Kecamatan Patrang ini mengaku, dirinya pernah membangun pos non formal pendidikan anak usia dini (PAUD) ketika dia menjabat sebagai ketua PKK lingkungan Tembaan RW 3 Kecamatan Kaliwates yang mampu merekrut 70 orang siswa.

Menurut dia, untuk memajukan pendidikan harus dimulai dari anak-anak usia dini. Sebab ini sangatlah menentukan prestasi anak-anak bangsa di kemudian hari. Ibu yang juga mewariskan ilmunya kepada anak pertamanya ini menginginkan agar pemerintah daerah memahami pentingnya pendidikan taman kanak-kanak bagi anak-anak usia dini.

Selama ini, Endang menilai, pemerintah daerah lebih fokus kepada pengembangan anak didik sekolah formal yang lain. Sedangkan untuk TK, kurang diperhatikan lebih dalam karena dianggap tidak terlalu penting dalam pengembangan dan pendidikan anak-anak. “Buat saya, memang baik menjadi orang penting. Tapi akan lebih penting untuk menjadi orang baik,” tegasnya. Dari berbagai upayanya tersebut, kemarin Endang dinyatakan sebagai salah seorang Kepala TK berprestasi. Penghargaan ini diberikan kepadanya saat peringatan hari pendidikan yang dipusatkan di Alun-alun Jember, kemarin. (bersambung)
sumber : radar jember, 02 mei 2010

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: