jump to navigation

Ibu Lemah Lembut, Ayah Tegas Dan Keras (2) Mei 6, 2010

Posted by idayantie in keluarga.
Tags: , , ,
trackback

Jadi, apa yang harus dilakukan suami-istri? Ieda dan Rostiana sama-sama berpendapat, masing-masing pihak harus mengkompromikan perbedaan pola asuhnya sehingga akhirnya ditemukan satu kesepakatan demi kepentingan anak.

Misalnya dalam hal latihan karate seperti contoh di atas. Apa pengaruhnya jika si anak ikut? Kalau memang menguntungkan, mengapa tidak? “Jadi, kompromi diambil bukan demi kepentingan ibu atau ayah, melainkan untuk anak,” ujar Rostiana.

Untuk bisa berkompromi, pasangan harus banyak melalukan dialog sehingga yang keluar adalah satu suara. Karena, bagi Rostiana, anak harus melihat orang tuanya kompak sementara anak sendiri tak merasa dipojokkan. Asalkan kekompakan itu didasari oleh reasoning. Misalnya, orang tua melarang anak dengan alasan yang masuk akal sehingga anak mengerti, larangan itu adalah konsekuensi tindakannya. Dengan demikian ia akan merasa yang jelek adalah kelakuannya, sementara ia sendiri tetap merasa diterima oleh keluarga. Anak akan mengerti, “Oh, saya dimarahi karena hal itu, bukan karena dibenci.”

Ayah dan ibu juga harus konsisten. Misalnya dalam menerapkan disiplin. Sekali bilang, ya, tetap harus, ya. Jangan sampai hari ini boleh tapi besok nggak boleh, dan lusanya dibolehkan lagi. Bukan berarti orang tua tak boleh melakukan perubahan. Tapi perubahan haruslah disertai alasan yang masuk akal. Bila perlu, orang tua minta maaf. Jangan sampai anak menjadi bingung.

Selain itu, sambung Ieda Sigit, ayah dan ibu juga harus rajin mencari umpan balik. Sebelum berbuat sesuatu sebaiknya selalu bertanya pada diri sendiri, apa dampaknya ke anak. “Jadi ada self criticism dan self correction. Ini akan lebih enak daripada dikritik dan dikoreksi orang lain atau pasangan.”

GRADASI

Bagaimana kalau pola asuhnya disamakan saja? Misalnya ayah dan ibu sama-sama otoriter atau sama-sama demokratis. “Kalau pola asuhnya sama-sama otoriter, ya, nggak bagus juga,” tukas Rostiana.

Yang penting dalam hal ini, lanjutnya, bukanlah soal persamaan atau perbedaan. Sebab, ayah dan ibu, bagaimanapun adalah dua orang yang berbeda sehingga meskipun pola asuhnya sama namun dalam penerapannya tak jarang akan berbeda juga. Misalnya, ibu membolehkan anak berbicara terbuka tapi dengan cara yang sopan. Sementara ayah membolehkan anak langsung ngomong kalau si anak tidak setuju pada suatu hal. Dengan kata lain, hanya gradasinya saja yang berbeda tapi dasar atau konsepnya sama: anak boleh mengemukakan pendapatnya. “Hal ini masih bisa menghasilkan anak-anak yang sehat secara mental.”

Gabungan Tiga Pola Asuh

Pada umumnya ada 3 macam tipe pola asuh, yakni otoriter, permisif, dan demokratis. Pada pola asuh otoriter, orang tualah yang menentukan semuanya. Orang tua menganggap semua yang mereka katakan adalah yang paling benar dan baik. Anak dianggap tak tahu apa-apa. Orang tua tak pernah mendorong anak untuk mandiri dan mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan tindakan si anak. Orang tua hanya mengatakan apa yang harus/tidak dilakukan dan tak menjelaskan mengapa hal itu harus/tidak dilakukan.

Pola asuh yang permisif cenderung membiarkan anak berkembang dengan sendirinya. Orang tua tak memberikan rambu-rambu apa pun kepada anak. Yang ada hanyalah rambu-rambu dari lingkungan.

Sedangkan pola asuh demokratis menggunakan penjelasan mengapa sesuatu boleh/tidak dilakukan. Orang tua terbuka untuk berdiskusi dengan anak. Orang tua melihat anak sebagai individu yang patut didengar, dihargai dan diberi kesempatan.

Dari ketiga pola asuh tersebut, menurut Ieda Sigit, yang ideal ialah perpaduan ketiganya. Sehingga orang tua tahu kapan boleh membiarkan anak, kapan bersikap demokratis, dan kapan harus menggunakan hak prerogatif mereka sebagai orang tua. Misalnya, anak tetap ngotot melakukan sesuatu yang salah padahal orang tua sudah memberi tahu dan menjelaskannya. Nah, pada saat itu orang tua bisa bersikap otoriter karena anak belum tahu bahaya yang akan dihadapi bila ia melakukan perbuatan tersebut. “Kelebihan pengetahuan dan pengalaman orang tua inilah yang diharapkan bisa mengarahkan dan membimbing anak.”

Apalagi dalam menghadapi era milenium, tanggung jawab orang tua menjadi jauh lebih berat. “Orang tua harus lebih banyak lagi belajar, membaca, mendengar, dan melihat. Kalau tidak, akan ketinggalan dari anak.” Karena itu Ieda Sigit meminta orang tua untuk betul-betul melihat ke depan, sehingga dalam merancang pendidikan anak menjadi bisa lebih bijaksana. “Jangan terlalu terpukau oleh kemajuan teknologi sampai lupa bahwa anak adalah manusia yang bukan hanya mempunyai pikiran tapi juga perasaan.” Orang tua harus mengembangkan seluruh aspek-aspek perkembangan agar anak bisa menjadi satu pribadi yang kuat, baik dalam hal intelektual, emosional, dan sosial.

Hasto Prianggoro/nakita
sumber :www.tabloidnova.com

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: