jump to navigation

Aneka Mitos Merawat Bayi (1) Mei 24, 2010

Posted by idayantie in merawat bayi.
Tags: , , , ,
trackback

Begitu bayi lahir, biasanya kita akan disodori beragam ajuran dan larangan dari orang tua. Betul atau tidak, sih, harus begini dan tak boleh begitu?

Kalau bayi selalu menangis atau rewel kala maghrib, berarti ia diganggu si “penunggu” rumah. Begitu, kan, kata orang tua-tua? Padahal, seperti dituturkan staf Medik Pediatri RS Pondok Indah, Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH, hal itu disebabkan temperatur alam menjelang matahari terbenam akan meningkat. Termasuk temperatur bayi. “Nah, temperatur alam yang berubah cepat ini akan membuat bayi mengalami perbedaan temperatur antara badannya dengan lingkungannya. Suhu badan masih tinggi, sementara temperatur alam di sekitarnya sudah drop.”

Nah, saat itulah bayi biasanya akan mengalami uneasy feeling atau perasaan tak nyaman, sehingga ia menangis. Sebetulnya orang dewasa pun mengalami hal itu. Baru habis mandi, misalnya, mereka akan merasa nyaman. Bedanya, bayi tak bisa mengekspresikan perasaannya. Jangan lupa juga, permukaan tubuh bayi masih kecil, sehingga kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya agak lambat.

Selain itu, “Ada yang disebut ritme sirkadian. Badan manusia mengalami bioritme yang ada hubungannya dengan waktu.” Nah, pada bayi, bioritmenya belum stabil. Karena itu, bioritme bayi yang baru lahir sampai usia 2 bulan kadang-kadang masih terbalik. Siang dianggap malam, sementara malam dianggap siang. Secara alamiah, bioritme ini akan berubah dengan sendirinya.

ADA YANG BAIK DAN ILMIAH

Menurut Adi Tagor, “Beliefs atau kepercayaan atau kebiasaan atau tradisi merupakan budaya subkultur yang turun-temurun diwariskan ke orang tua, khususnya ibu.

Di daerah atau negeri mana pun, budaya lokal dalam membesarkan bayi selalu ada.” Biasanya ditambah dengan takhayul atau mitos palsu yang bentuknya gosip di antara orang-orang tua tentang sesuatu yang tak ada dasar ilmiahnya.

Yang dimaksud ilmiah oleh Adi Tagor bukannya harus ilmu kedokteran. “Pengalaman orang tua, kan, juga ilmu. Bedanya, kalau ilmu mereka eksperiensial, sementara ilmu pengetahuan sifatnya eksperimental.” Misalnya, selama ratusan tahun diketahui bahwa bawang yang dicampur minyak bisa menurunkan panas. “Itu secara ilmiah benar, karena bawang adalah tumbuhan yang mengeluarkan minyak yang mudah menguap dan menyerap panas.”

Di negara-negara yang sudah maju seperti Amerika, kebiasaan/kepercayaan itu dituangkan dalam bentuk tertulis. Ambil contoh buku tentang perawatan bayi karangan Benjamin Spock. Itu digali dari tradisi subkultur Amerika yang diberi koreksi-koreksi ilmiah.

Jadi, tegas Adi Tagor, “Tak semua kebiasaan atau kepercayaan itu salah. Ada juga, kok, yang baik. Bahkan banyak yang cocok secara ilmiah.” Salah satunya ialah upacara tedak siti saat bayi berusia 7 bulan. “Secara ilmiah, itu pas dengan usia refleks menapak bayi.”

Yang penting, kita harus menggalinya lagi dan me-reeducate atau diberi masukan ilmiah. Yang baik dipertahankan, seperti upacara tedak siti tadi, hanya isinya dikoreksi secara ilmiah. Kecuali kalau memang membahayakan betul, ya, dilarang. “Manusia hidup dalam suatu kerangka subkultur tertentu. Nggak bisa ia hidup di luar kultur tempat ia hidup. Jadi, isinya saja yang diperbaiki. Ilmu kedokteran pun dikoreksi dari waktu ke waktu, kok,” urai dokter spesialis anak yang juga berpraktek di RS Internasional Bintaro ini. Hasto Prianggoro/nakita

sumber : http://www.tabloidnova.com

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: