jump to navigation

Kisah Petugas Task Force Sensus Penduduk di Banyuwangi Mei 31, 2010

Posted by idayantie in berita di Banyuwangi.
Tags: , , , ,
trackback

Naik Rakit untuk Mendata Warga Pelosok

Hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan Sensus Penduduk (SP) 2010. Selama sebulan bekerja, banyak hal dan cerita penuh perjuangan yang membuat petugas sensus terkenang.

RISKI NALANDARI, Banyuwangi

Untuk menyukseskan program dari pemerintah, Banyuwangi pun ikut melaksanakan SP 2010. Kegiatan sensus ini serentak dilaksanakan sejak 1 Mei 2010 lalu dan berakhir hari ini. Lebih dari 3.500 petugas ikut berpartisipasi dalam melakukan sensus penduduk di Bumi Blambangan.

Para petugas tersebut tersebar di seluruh wilayah Banyuwangi, dari tingkat kecamatan, hingga tingkat dusun. Tentu, banyak cerita menarik yang dialami oleh para Petugas Cacah Lapangan (PCL).

Salah satunya, seperti yang dialami oleh Bejo Santoso, petugas task force Banyuwangi. Bejo mengaku pernah memiliki pengalaman menarik selama bertugas dalam SP 2010 ini. Sebagai seorang task force, dia hanya bertugas untuk melakukan pencacahan pada tahapan moment telling, maupun pada tahapan pencacahan di lapangan dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Sementara untuk kondisi normal, pencacahan akan dilaksanakan oleh petugas dan tim PCL yang ada di lapangan.

Pria yang juga menjabat sebagai Staf Seksi sosial proyek SP 2010 ini, juga pernah harus menempuh kondisi sulit saat melakukan pencacahan. Bejo dan seorang rekannya pernah melakukan sensus di Dusun Sukomade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran beberapa waktu lalu. Mereka terpaksa turun tangan karena adanya keterlambatan laporan dari petugas di lapangan, mengenai proses sensus di dusun tersebut. “Karena tidak kunjung menerima laporan, kemudian kami menghubungi tim PCL di sana untuk mengetahui penyebabnya,” ujarnya.

Setelah dicek, ternyata diketahui bahwa akses jalan menuju Dusun Sukomade terputus. Hal itu karena jembatan yang menuju dusun tersebut, ambrol dan tidak bisa dilewati. Kondisi ini menghambat para petugas sensus yang akan menuju desa tersebut. Sehingga, petugas task force harus turun tangan langsung dalam kondisi seperti ini.

Menurut Bejo, untuk menuju Dusun Sukomade, mereka harus terlebih dahulu melalui jalan alam yang berbatu. Mereka juga harus melintasi hutan. Rintangan terakhir adalah harus menyeberangi sungai besar tanpa jembatan. Untungnya, saat itu ada warga yang sedang mengendarai rakit. Akhirnya, mereka dan motornya menumpang rakit tersebut untuk sampai ke lokasi. “Jaraknya sangat jauh, perjalanan yang harus ditempuh sekitar dua jam perjalanan,” ujar pria yang bekerja di kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi itu.

Bejo mengakui, kisah beratnya kerja petugas task force tidak hanya dirasakan dirinya. Banyak pengalaman serupa juga pernah dialami oleh petugas lain. Seperti petugas di Kecamatan Tegaldlimo yang memiliki beberapa daerah blok sensus dengan akses jalan yang sulit dilalui. Apalagi, banyak warga yang masih tinggal di tempat terpencil tersebut.

Namun terkadang, ada juga pengalaman menyenangkan yang mereka alami. Misalnya saat sedang melakukan tugas sensus, tak jarang warga juga menyediakan makanan bagi para petugas. Bahkan terkadang ada beberapa petugas yang juga pernah diajak ngobrol hingga lama, dan tidak diizinkan pulang. Meski begitu, Bejo mengaku tidak keberatan dengan kesulitan yang pernah dihadapinya. “Namanya juga sudah tugas, jadi ya tetap harus bertanggung jawab dengan menyelesaikannya,” tuturnya.

Tidak hanya para petugas sensus di wilayah kecamatan pinggiran, petugas SP 2010 di wilayah perkotaan juga mengalami berbagai kendala. Seperti yang diungkapkan oleh Gunawan Panji Asmara, 25, seorang petugas sensus di Kecamatan Banyuwangi.

Panji mengakui, pekerjaan ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi petugas sensus. Saat harus menjalankan tahapan sensus, timnya juga pernah harus menyeberang sungai untuk menuju lokasi rumah warga. Hal itu dilakukan oleh timnya karena untuk menuju lokasi tersebut harus melalui jalan memutar. Lokasi tersebut ada di wilayah perbatasan Kelurahan Kebalenan dan Kelurahan Taman Baru. “Untuk menghemat waktu, maka dipilih untuk menyeberangi sungai. Jadi, tim yang bertugas saat itu terpaksa harus nyemplung sungai. Padahal di lokasi yang kita tuju, hanya ada dua rumah warga,” akunya.

Tidak hanya itu, sikap bermusuhan juga kadang diterima oleh Panji dan kawan-kawan. Biasanya sikap bermusuhan ini, karena masyarakat merasa curiga mengenai sensus. Bahkan, ada yang mencurigai petugas sensus tersebut hanya melakukan survei luas bangunan untuk mengetahui jumlah tunggakan pajak.

Menurut Panji, tak jarang dia juga menerima curhat dari warga yang disensus. Biasanya curhat itu mengenai kondisi masyarakat yang merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah. Mereka merasa terabaikan, karena kurangnya bantuan dari pemerintah. “Mereka akan mulai curhat, saat masuk pertanyaan mengenai pekerjaan dan mata pencaharian,” ujarnya.

Satu pengalaman yang tidak pernah dilupakan Panji yakni ketika dia pernah mendapat sebuah tendangan dari warga. Saat itu, dia sedang mensensus pasangan suami istri yang berbeda usia. Sang istri memiliki usia yang jauh lebih tua dibanding dengan suami. Awalnya, Panji tidak tahu bahwa hubungan keduanya adalah suami istri. Sehingga refleks, dia bertanya pada sang suami, apakah perempuan di sebelahnya adalah ibunya. Sambil tertawa, sang suami juga menendang kaki Panji, dan mengatakan bahwa wanita tersebut adalah istrinya. “Untungnya, tendangan tersebut hanya pura-pura,” ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, salah seorang rekan timnya juga pernah harus mendatangi rumah seorang warga hingga enam kali. Hal itu terjadi karena sang penghuni rumah adalah pengusaha yang jarang berada di rumah. Kesulitan juga pernah dihadapi Panji, saat harus melakukan sensus penghuni kos-kosan. Entah kenapa, penghuni kos-kosan ini jarang bersedia untuk disensus dengan berbagai alasan. Mereka seperti menghindar untuk didata.

Panji juga merasa bersyukur bisa menjadi petugas sensus. Karena dengan mengikuti proses sensus, dia jadi mengetahui kondisi sebenarnya masyarakat Banyuwangi.(bay)

sumber : Radar Banyuwangi, 31 Mei 2010

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: